Tampilkan postingan dengan label Metalurgi Ekstraksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metalurgi Ekstraksi. Tampilkan semua postingan

UJI REAKSI SLAKING PADA LIMESTONE DARI RUMPIN, BOGOR

Eko Sulistiyono dan Murni Handayani 
Pusat Penelitian Metalurgi – LIPI
Gedung 470 Kawasan Puspiptek Serpong 

ABSTRAK
Proses slaking merupakan proses reaksi antara hasil kalsinasi berupa kalsium oksida aktif dengan air yang bertujuan melarutkan unsur kalsium menjadi larutan oksida. Proses dilakukan dengan menggunakan variabel massa padatan sampel limestone . Pada kegiatan ini menggunakan variabel massa sampel kalsit yaitu pada massa 50 g, 100 g, 150 g, 200 g dan 250 g dengan volume pelarut air masing-masing adalah 500 ml. Hasil proses slaking menunjukkan bahwa reaksi paling cepat terjadi pada 200g / 500 ml dengan suhu maksimal 77.5 dengan waktu 4.02 menit. Namun dari hasil produk slaking yang telah dikeringkan dapat diketahui bahwa hasil  terbaik tejadi pada variable 150 g / 500 ml air dengan bulk density paling rendah.

Kata kunci : Limestode  slaking, massa sampel, Bulk Density


Download Full Paper

ELIMINASI UNSUR BESI DAN SILIKA PADA PROSES HIDROMETALURGI PEMBUATAN KALSIUM KARBONAT PRESIPITAT DARI BATU KAPUR RUMPIN-BOGORELIMINASI UNSUR BESI DAN SILIKA PADA PROSES HIDROMETALURGI PEMBUATAN KALSIUM KARBONAT PRESIPITAT DARI BATU KAPUR RUMPIN-BOGOR

Eko Sulistiyono dan Murni Handayani
Pusat Penelitian Metalurgi – LIPI
Gedung 470 Kawasan Puspiptek Serpong 

ABSTRAK
Proses pemisahan unsur besi dan silika dari batu kapur pada pembuatan kalsium karbonat presipitat merupakan tahapan proses yang penting. Tujuan dari pengamatan pemisahan unsur besi dan silika adalah untuk mendapatkan metode yang tepat dalam pembuatan kalsium carbonate presipitat dengan kualitas tinggi. Percobaan pertama diperoleh hasil kadar besi 0,036 %, silika 0,093 % dan magnesium 0,034 %  dan pada percobaan kedua diperoleh hasil kadar besi 0,009 % , silica 0,012 % dan magnesium 0,010 %. Dari hasil percobaan terlihat bahwa batu kapur dari rumpin dengan kualitas yang rendah dimana kadar silika sekitar 14 % dapat direduksi menjadi dibawah 0,1 %. Metode kedua menghasilkan kualitas produk yang lebih bagus dibandingkan metode pertama.

Kata kunci : Eliminasi, Besi, Silika, Hidrometalurgi, kalsium karbonat presipitat


Download Full Paper

LANGKAH AWAL UNTUK PROSES EKTRAKSI LOGAM TEMBAGA DARI BIJIH TEMBAGA

Edi Herianto* dan  Sudarsono**
*Pusat Penelitian Metalurgi – LIPI
Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang 15314
e-mail : edih001@lipi.go.id. Hp : 0815 88 57 960
**Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI
Jl.Sangkuriang Bandung 40135

ABSTRAK
Langkah awal dalam penelitian ektraksi mineral logam yang perlu dilakukan adalah karakterisasi bijih yang akan diolah. Karena tanpa adanya penelitian awal ini maka kita sulit untuk melakukan penelitian selanjutnya. Karena dari penelitian awal ini kita mendapat gambaran mengenai jenis bijih, komposisi bijih dan lain sebagainya yang diperlukan dalam proses ektraksi selanjutnya. Bijih yang dilakukan dalam penelitian ini adalah bijih tembaga yang berada di daerah Kecamatan Slahung di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur.
Dari hasil analisis terhadap data hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan, untuk bijih dengan sampel A, mineralisasi bijih yang terbentuk adalah type sulfida, dan sebagai mineral pengotor adalah type silikat dan sulfida, proporsi volume relatif dalam sampel : bijih tembaga (15 – 25 %) : kalkopirit (12-15 %), malasit (5-8 %), kuprit + kovelit (1%), digenit + kalkosit (2 %). Mineral pengotor untuk tembaga (75 – 85 %) : Kuarsa (60-65 %), pirit (10-15 %). Sedangkan untuk bijih yang dengan sampel B atau bijih yang diambil dari bolder yang berbeda menunjukan hasil mineralisasi bijih yang terbentuk adalah type sulfida, dan sebagai mineral pengotor adalah type silikat dan sulfida, proporsi volume relatif dalam sampel : bijih tembaga (25 – 30 %) : kalkopirit (15-20 %), kovelit + Kuprit + azurit (5-15 %), malasit (1-2 %).  Mineral pengotor untuk tembaga (70 – 75 %) : Kuarsa (60-65 %), pirit (10-15 %). Emas murni  (<<<< 1 %), berwarna kuning, sangat halus 1-3 µm, inklusi di dalam kristal pirit dan kalkopirit. Melihat mineralisasi bijih tersebut maka proses ekstraksi tembaga sebaiknya menggunakan jalur pyrometalurgi, namun sebelum diproses lebih lanjut bijih perlu dikonsentrat terlebih dahulu untuk meningkatkan kadar tembaga di dalam bijih.

KATA KUNCI : Langkah awal, ektraksi tembaga, bijih tembaga, ponorogo, Jawa Timur, karakterisasi, pemilihan proses.


Download Full Paper